KEUTAMAAN SEDEKAH

January 27, 2010 by admin  
Filed under Rohima

ﻣﺜﻞﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻨﻔﻘﻮﻥﺍﻣﻮﺍﻟﻬﻢ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞﺍﻟﻠﻪ
ﻛﻤﺜﻞﺣﺒﺔﺍﻧﺒﺘﺖ ﺳﺒﻊﺳﻨﺎﺑﻞﻓﻲ ﻛﻞﺳﻨﺒﻠﺔﻣﺄﺓﺣﺒﺔ…
Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji”.
(Q.S. Al Baqarah : 261)

Al Jurjani memberikan definisi sedekah ialah suatu pemberian yang diberikan oleh seorang kepada orang lain secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Hal tersebut juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah swt.

Cakupan sedekah atau shodaqoh sangatlah luas. Sedekah itu tidak harus dengan harta karena segala amal kebaikan adalah sedekah, sehingga mencegah diri dari perbuatan maksiat adalah shodaqoh, memberi nafkah kepada keluarga adalah shodaqoh, beramar ma’ruf nahi munkar adalah shodaqoh, menumpahkan syahwat kepada isteri adalah shodaqoh, dan tersenyum kepada sesama muslim pun adalah juga shodaqoh.

Dalam sebuah tausiahnya, Ustadz Yusuf Mansur menyampaikan bahwa sedikitnya ada empat keutamaan bersedekah.

Pertama, mengundang datangnya rezeki.

“Allah berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan, “Pancinglah rezeki dengan sedekah”.

Kedua, sedekah dapat menolak bala.

Rasulullah pernah bersabda, “Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.”

Ketiga, sedekah dapat menyembuhkan penyakit.

Rasulullah menganjurkan, “Obatilah penyakitmu dengan sedekah.”

Keempat, menunda kematian dan memperpanjang umur.

Rasulullah mengatakan, “Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur”. Mengapa semua itu bisa terjadi?  Hal tersebut bisa terjadi karena Allah mencintai orang-orang yang bersedekah.
Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi oleh manusia. Kalau Allah sudah mencintai seseorang, maka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada kebutuhannya yang Allah tidak kabulkan, tidak ada dosanya yang Allah tidak ampuni, dan dia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (baik).

Suatu hal yang harus diyakini oleh orang beriman ialah bahwa sedekah itu dapat menghalangi datangnya bala’ atau musibah kepada kita. Seperti dikisahkan pada suatu hari hari datanglah dua orang akhwat ke sebuah pondok pesantren di Bandung yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bus antarkota, beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan, bus yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua akhwat itulah yang selamat dengan tidak terluka sedikit pun.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya waktu itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafadzkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya pada saat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Allah swt adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang hampir setiap desah napas selalu membangkang perintah-Nya, Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira. Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, pasti akan kembali kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada di genggaman kita.

Demi Allah, semuanya datang dari Allah yang Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan. Kemudian kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Dari pengalaman kongkret kedua akhwat di atas, dengan penuh keyakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya. Boleh jadi, inilah yang menyebabkan Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan sedekah. Saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.

Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 261). Seruan Rasul itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya Rasulullah, harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah”. “Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah SAW. Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya Rasul, saya akan melengkapi (menyumbang) peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam. Kenapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan untuk bersedekah? Tiada lain karena mereka yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Sedekah adalah penyubur pahala, penolak bala, dan pelipat ganda rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”.
Allah menjawab, “Ada, yaitu besi”.
Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebihkuat dari pada besi?”. Allah menjawab, “Ada, yaitu api”.
Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”. Allah menjawab, “Ada, yaitu air”.
“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?,” tanya para malaikat. Allah pun menjawab, “Ada, yaitu angin”. Akhirnya para malaikat bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”.
Allah yang Maha Gagah menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”.”

Wallahu a”lam bish-shawab.

MERAIH KEBERKAHAN HIDUP

October 30, 2009 by admin  
Filed under Rohima

ﻭﻟﻮﺍﻥﺍﻫﻞﺍﻟﻘﺮﻯﺍﻣﻨﻮﺍﻭﺍﺗﻘﻮﺍﻟﻒﺘﺤﻨﺎﻋﻟﻴﻬﻢﺑﺮﻛﺖﻣﻦﺍﻟﺴﻤﺎﺀﻭﺍﻻﺭﺽ
Artinya: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (Q.S. Al A’Raaf : 96)

Setiap orang tentu saja ingin memperoleh keberkahan dalam hidupnya di dunia ini. Oleh karena itu, kita selalu berdo’a dan meminta orang lain mendo’a kan kita agar segala sesuatu yang kita miliki dan kita upayakan memperoleh keberkahan dari Allah swt.

Secara harfiyah, berkah berarti an nama’ waz -ziyadah yakni tumbuh dan bertambah, ini berarti berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu yang kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh keberkahan yang diidamkan itu. Namun, Allah swt. tidak sembarangan memberikan keberkahan kepada manusia. Ternyata, Allah hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Janji Allah untuk memberikan keberkahan kepada orang yang beriman dan bertaqwa dikemukakan dalam firman-Nya yang artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya
(QS 7:96).

Apabila manusia, baik secara pribadi maupun kelompok atau masyara- kat memperoleh keberkahan dari Allah swt., maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik. Rizki yang diperolehnya cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupan. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami apa sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya.

Bentuk Keberkahan

Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk.

Pertama, berkah dalam keturunan, yakni dengan lahirnya generasi yang shaleh. Generasi yang shaleh adalah yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal shalehnya, ini merupakan sesuatu yang amat penting, apalagi terwujudnya generasi yang berkualitas memang dambaan setiap manusia. Kelangsungan Islam dan umat Islam salah satu faktornya adalah adanya topangan dari generasi yang shaleh. Generasi semacam itu juga memiliki jasmani yang kuat, memiliki kemandirian termasuk dalam soal harta dan bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Kedua, keberkahan dalam makanan yakni makanan yang halal dan thayyib, hal ini karena ulama ahli tafsir, misalnya Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al A’raf : 96 di atas adalah rizki, yang diantara rizki itu adalah makanan. Yang dimaksud makanan yang halal adalah disamping halal jenisnya juga halal dalam mendapatkannya, sehingga bagi orang yang diberkahi Allah, dia tidak akan menghalalkan segala cara dalam memperoleh nafkah.

Disamping itu, makanan yang diberkahi juga adalah yang thayyib, yakni yang sehat dan bergizi sehingga makanan yang halal dan tayyib itu tidak hanya mengenyangkan tapi juga dapat menghasilkan tenaga yang kuat untuk melaksanakan dan menegakkan nilai-nilai kebaikan sebagai bukti dari ketaqwaannya kepada Allah swt. Karena itu, agar apa yang dimakan juga membawa keberkahan yang lebih banyak lagi, meskipun sudah halal dan thayyib, makanan itu harus dimakan sewajarnya atau secukupnya. Hal ini karena Allah melarang manusia berlebih-lebihan dalam makan maupun minum.

Ketiga, berkah dalam waktu yang cukup tersedia dan dimanfaatkannya untuk kebaikan, baik dalam bentuk mencari harta, memperluas ilmu maupun memperbanyak amal yang shaleh. Oleh karena itu, Allah menganugerahi kepada kita waktu, baik siang maupun malam dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam setiap harinya, tapi bagi orang yang diberkahi Allah maka dia bisa memanfaatkan waktu yang 24 jam itu semaksimal mungkin sehingga pencapaian sesuatu yang baik ditempuh dengan penggunaan waktu yang efisien. Sudah begitu banyak manusia yang mengalami kerugian dalam hidup ini karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik, sementara salah satu karakteristik waktu adalah tidak akan bisa kembali lagi bila sudah berlalu, Allah berfirman yang artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al’Ashr :1-3).

Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang diberkahi Allah, waktu digunakan untuk bisa membuktikan pengabdiannya kepada Allah swt, meskipun dalam berbagai bentuk usaha yang berbeda.

Kunci Keberkahan

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa sebagai seorang muslim, keberkahan dari Allah untuk kita merupakan sesuatu yang amat penting. Karena itu, ada kunci yang harus kita miliki dan usahakan dalam hidup ini. Sekurang-kurangnya, ada dua faktor yang menjadi kunci keberkahan itu.

1. Iman dan Taqwa Yang Benar.

Di dalam ayat di atas, sudah dikemukakan bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Semakin mantap iman dan taqwa yang kita miliki, maka semakin besar keberkahan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu menjadi keharusan kita bersama untuk terus memperkokoh iman dan taqwa kepada Allah Swt. Salah satu ayat yang amat menekankan peningkatan taqwa kepada orang yang beriman adalah firman Allah yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri/muslim.
(QS. Ali ’imran :102).

Keimanan dan ketaqwaan yang benar selalu ditunjukkan oleh seorang mu’- min dalam bentuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Tegasnya keimanan dan ketaqwaan itu dibuktikan dalam situasi dan kondisi yang bagaimananpun juga dan dimanapun dia berada.

2. Berpedoman kepada Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber keberkahan sehingga apabila kita menjalan- kan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan berpedoman kepadanya dalam berbagai aspek kehidupan, nicaya kita akan memperoleh keberkahan dari Allah swt, Allah berfirman yang artinya: Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya? (QS 21:50).

Karena harus kita jalankan dan pedomani dalam kehidupan ini, maka setiap kita harus mengimani kebenaran Al-Qur’an bahwa dia merupakan wahyu dari Allah swt. dan tidak akan kita temukan kelemahan dari Al-Qur’an, selanjut- nya kita membaca serta menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, baik menyangkut aspek pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa.
Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa, keberkahan dari Allah yang kita dambakan itu, memperolehnya harus dengan berdo’a dan berusaha yang sungguh-sungguh, yakni dalam bentuk memantapkan iman dan taqwa serta selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup ini.

MACAM-MACAM NAFSU

October 20, 2009 by admin  
Filed under Rohima

Amarah :
• Jiwa yang belum mampu membedakan baik, buruk, manfaat,mafsadat.
• Nafsu ini tidak mau menerima petuah dan saran.

Lawwamah :
• Jiwa yang memiliki keinsafan dan penyesalan setelah melakukan pelanggaran.
• Dalam berbuat maksiat dia sembunyi-sembunyi karena menyadari akibatnya tetapi belum mampu
mengendalikan nafsu jahat yang mempengaruhinya.
• Dalam keberadaannya ia lebih dekat kepada kemaksiatan.

Musawwalah :
• Jiwa yang telah mampu membedakan baik dan buruk meskipun untuk mengerjakan yang buruk bagi
nafsu ini tidak ada bedanya dengan melakukan perbuatan baik.
• Dalam melakukan perbuatan buruk tidak dilakukan dengan terang-terangan sebab dia merasa malu
kepada orang lain bukan pada diri sendiri.

Mutmainnah :
• Jiwa yang sudah mendapatkan pengarahan, tuntunan, dan pemeliharaan yang baik.
• Nafsu ini mendatangkan ketenangan jiwa, melahirkan sikap dan tindakan yang baik.
• Kejahatan sulit menerobos untuk menguasainya.

Mulhamah :
• Jiwa yang memperoleh ilham dari Allah swt. Ia dikaruniai ilmu, diperhias dengan akhlak mahmudah.
• Ia cenderung penyabar,suka bersyukur, tabah, dan ulet.

Raadhiyah :
• Jiwa yang ridha kepada Allah.
• Ia sangat baik dalam memperoleh anugerah dari Allah.
• Ia pandai bersyukur, tidak banyak menuntut, menerima apa adanya.

Mardyiyah :
• Jiwa yang diridoi Allah swt.
• Dapat dilihat dari sikap ikhlas, selalu dzikir, memperoleh kemuliaan.

Kaamilah :
• Jiwa yang sempurna.
• Ia mampu mengerjakan irsyad/petunjuk dan
• membawa kesempurnaan pada hamba Allah yang lain. Ia dapat ilmu dari bimbingan Allah.

Asyiiik…Pusat Bahasa Gelar Lomba untuk Peserta BIPA

September 27, 2009 by admin  
Filed under Rohima

Ilustrasi: Pusat Bahasa Depdiknas gelar Lomba Keterampilan Berbahasa Indonesia bagi Peserta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Jenis lomba meliputi aktifitas yang dapat memperlihatkan empat kemampuan berbahasa para peserta, yaitu keterampilan membaca, mendengarkan, berbicara, serta menulis.

Ilustrasi: Pusat Bahasa Depdiknas gelar Lomba Keterampilan Berbahasa Indonesia bagi Peserta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Jenis lomba meliputi aktifitas yang dapat memperlihatkan empat kemampuan berbahasa para peserta, yaitu keterampilan membaca, mendengarkan, berbicara, serta menulis.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) gelar Lomba Keterampilan Berbahasa Indonesia bagi Peserta Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Jenis lomba yang diadakan meliputi aktivitas yang dapat memperlihatkan empat kemampuan berbahasa yang dimiliki peserta, yaitu keterampilan membaca, mendengarkan, berbicara, serta menulis. Sifat kepesertaannya terbuka, yaitu dapat diikuti oleh peserta BIPA yang tersebar di lembaga pengajaran BIPA, baik yang di Indonesia maupun di luar negeri.

Batas waktu pendaftaran peserta paling lambat pada 23 September 2009. Nama para peserta akan diumumkan melalui surat ke alamat e-mail peserta dua hari setelah pendaftaran ditutup.

Selain itu, panitia juga akan menambahkan nama peserta ke dalam jaringan Facebook pada 25 September 2009. Peserta yang mendapatkan nama “Lomba Keterampilan BIPA” dalam bagian permintaan di Facebook-nya diminta untuk segera mengonfirmasi.

Untuk mengetahui lebih jauh, informasi bisa didapatkan melalui panitia lomba di Gedung Iswara Lt II-Pusat Bahasa Depdiknas, Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta 13220, telepon (021) 475 0406/4706288 pesawat 157 dan faksimile 475 0407 atau LombaKeterampilanBIPA@gmail.com dan bipapb@yahoo.co.id.

Syarat-syarat lainnya bisa dilihat di pusatbahasa.depdiknas.go.id/lamanv3/detail_berita/1178.

sumber kompas.com