Kegiatan Terkini

Video Mabhak





Online

We have 215 guests and 3 members online

Buletin Jum'at

 

MANUSIA BERKUALITAS DALAM PERSEPSI ALLAH SWT

” Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu…"(Q.S.AlHujarat : 13)

Harga diri di hadapan Allah swt. bukan dilihat dari status sosialnya, kebagusan rupa, keturunan bahkan kekayaan, melainkan nilai kualitas ke- takwaannya.Diterangkan dalam hadits berkenaan dengan hal tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Hurairoh R,A bahwa Rosulullah Saw bersabda:

“Allah tidak akan melihat penampilanmu dan kekayaan kamu, akan tetapi kepada hati dan amalmu” (HR.Imam Bukhori)

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad bahwa Durrah binti Abu Lahab R.A berkata,”seorang laki-laki beranjak menemui Nabi yang sedang berada di atas mimbar, orang itu berkata, ‘ya Rasulullah, manusia manakah yang paling baik?, Rasulullah menjawab,’manusia yang paling baik adalah yang paling rajin membaca Alquran, yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling sering memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar, dan yang paling sering menyambung silaturrahmi.

Dalam hadits lain dijelaskan bahwa manusia yang paling baik ialah manusia yang berhati tulus dan berlidah lurus. Sahabat bertanya,”apa yang dimaksud berhati tulus ya Nabi ?, nabi menjawab,”hati yang bertakwa, bersih, tidak menyimpan dosa kepada Allah dan orang lain, tidak dengki, tidak iri, tidak zholim” nabi ditanya lagi, sesudah itu siapa ?, kata nabi, “yang mengembangkan kehidupan dunia sambil mencintai akhirat”, sesudah itu apa lagi ya nabi?, “mukmin dengan akhlak yang baik”. Kemudian hadits lain disebutkan “manusia yang paling baik adalah yang panjang usianya dan baik amalnya”(HR.Thobaroni)

Wahai sahabatku! Dari ayat dan hadits di atas menjelaskan kepada ki- ta bahwa manusia yang mulia dalam pandangan Allah dinilai dari segi kualitas ketakwaannya, dan manifestasi takwa itu sendiri memancarkan kesadaran cahaya ilahiyah dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pola atau gaya kita me nempuh hidup yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir “Innallaha ma’aanaa”,sesungguhnya Allah itu selalu bersama kita (AtTaubah:40). Dan ia tidak terfokus hanya mempunyai kesadaran vertical saja, berupa hubungan kepada Allah swt., orang yang bertakwa juga memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusa. Dua kesadaran itu dilambangkan dalam praktek sholat. Sholat yang dimulai dengan takbiratul ihram, artinya takbir yang mengharamkan segala pekerjaan lain selain menghadap Allah, dengan ucapan Allahu Akbar, Alla maha besar. Takbir ini menggambarkan kesadaran vertical.

Akan tetapi, sholat diakhiri dengan ucapan salam, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, yang secara simbolik menunjukan bahwa kita mempunyai perhatian kepada sesama, kemudian diperkuat dengan anjuran menengok ke kanan dan ke kiri, seolah-olah Allah berpesan “ kamu betul telah sungguh-sungguh menghadap-Ku melalui sholatmu, membina hubungan baik dengan-Ku, maka tunjukkanlah buktinya dengan membina hubungan yang baik dengan sesama manusia”, itulah akhlakul karimah.

Dengan demikian janganlah tertipu oleh penampilan bertopeng sholeh yang kadang membuat terpesona orang dengan kesholehannya. Tetapi dibalik itu wajah sebenarnya menampilkan bahimiyah, yakni binatang buas yang berpenampilan manusia. Karena Allah mengajarkan kepada hambanya agar selalu cantik bathiniyahnya. Para Nabi dan Imam juga telah diberi Allah swt. keduanya yakni cantik lahiriyahnya tetapi cantik juga bathiniyahnya.

Mengapa para Nabi harus tampan? Dalam Alquran disebutkan : “Supaya orang tidak membuat alasan yang menolak kebenarannya”,Lialla yakuuna linnaasi ‘alallaahi hujjatun ba’dar rasuul” (An-Nisaa:165). Bagaimana orang akan menerima kebenaran kalau wajah nabinya menakut- kan misalnya, karena itulah para Nabi dan Imam memiliki dua keindahan itu.

Akhirnya, kita harus bersungguh-sungguh untuk memperoleh kualitas ketakwaan. Agar hidup kita dimata Allah menjadi lebih mulia yang kemuliaan itu akan dinilai oleh Allah swt. sebagai investasi akhirat kita yakni berupa surga. Untuk itu semua diperlukan kesabaran dalam hal apaun karena salah satu manifestasi syukur adalah sabar, dan tidak semua orang mendapatkan kebaikan dan surga melainkan hanya untuk orang-orang yang sabar.