Persiapan SMA Martia Bhakti untuk Mengikuti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Menuju Sekolah Berkualitas

Persiapan SMA Martia Bhakti untuk mengikuti Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Menuju Sekolah Berkualitas

 

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional (AN) , hal itu merupakan perwujudan dari Merdeka Belajar sebagai kebijakan besar dalam rangka memujudkan transformasi pengelolaan Pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menjelaskan perubahan Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional akan dimulai tahun depan.  Tujuan utamanya adalah untuk mendorong perbaikan mutu pembelajaran serta hasil belajar peserta didik .

Untuk mendukung tujuan tersebut, SMA Martia Bhakti mengikuti Sosialisasi Assesmen Nasional Direktorat SMA dilaksanakan dalam  Webinar Premiere yang disampaikan oleh Bapak Anas Ponijan, M.Pd. (Kepala SMA Islam PB. Soedirman 2 Bekasi) sebagai Fasilitator Sosialisasi Assesmen Nasional, pada Hari Jumat,  tanggal 13 November 2020 Pukul 10.30 WIB.

Dijelaskan dalam Webinar Premiere tersebut bahwa  “Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah kompetensi yang benar-benar minimum, dimana melalui AKM kita bisa memetakan sekolah-sekolah didaerah berdasarkan kompetensi minimum. Kompetensi minimum adalah kompetensi dasar yang dibutuhkan murid untuk bisa belajar, apapun materinya dan apapun mata pelajarannya. Materi AKM terdiri dari dua yaitu terkait literasi atau baca tulis, serta literasi numerasi. AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid  menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.

Didalam assessment nasional itu ada tiga instrument, yaitu :

  1. Asesmen kompetensi minimum terdiri dari literasi dan numerasi, Literasi yang dimaksudkan tidak hanya sekedar membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan untuk mengerti atau memahami konsep dibalik tulisan tersebut. Sedangkan Numerasi adalah kemampuan menganalisis menggunakan angka, prosedur, fakta dan alat matematika. Kompetensi yang dinilai mencakup:
  2. Keterampilan berfikir logis-sistematis
  3. Keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari.
  4. Keterampilan memilah serta mengolah informasi.
  5. Survei karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosio emosional berupa pilar karakter untuk mencetak profil Pelajar Pancasila. Ada enam indicator profil Pelajar Pancasila yaitu berakhlak mulia, kreativitas, gotong royongm kebhinekaan global, bernalar kritis dan kemandirian.
  6. Survei lingkungan belajar nantinya untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

 

 

 

Menurut Bagus Hary Prakoso, Pd.D. dari Pusat Asesment dan Pembelajaran pada Balitbang Kemendikbud memaparkan hasil PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2012 bahwa mayoritas siswa usia 15 tahun belum memiliki literasi dasar membaca, matematika dan sains. Itulah alasaannya mengapa AKM memilih literasi dan numerasi, karena keduanya adalah Kompetensi Minimum bagi siswa untuk belajar sepanjang hayat dan dapat berkontribusi kepada masyarakat.

Dampak dari AKM tersebut diharapkan dapat memperbaiki budaya belajar, tidak ada dikotomi antara mata pelajaran UN dan maple non UN, tidak adanya mata pelajaran utama dan pelengkap, tidak ada percepatan materi atau bimbingan intensif serta meningkatkan proses pembelajaran.