RESENSI BUKU PERANG SUARA (BAHASA DAN POLITIK PERGERAKAN) – RANI BATAVIA

RESENSI BUKU: PERANG SUARA (BAHASA DAN POLITIK PERGERAKAN)

Judul Buku                  : Perang Suara (Bahasa Dan Politik Pergerakan)

Pengarang                  : Hilmar Farid

Penerbit                       : Komunitas Bambu, Depok

Tahun Terbit                : 2025

Jumlah Halaman         : XVI+140 halaman

No ISBN                      : 978-623-7537-45-2

 

Buku ini menjelaskan tentang bagaimana situasi Hindia Belanda dari masa VOC sampai masa pergerakan kebangsaan Indonesia dengan terpusat penggunaan Bahasa yang beredar di kalangan Hindia Belanda dan perjuangan kaum Bumiputra melawan kekuasaan Kolonial Belanda menggunakan Bahasa dan surat kabar dan bahasa yang digunakan. Yang berawal dari masuknya modernisasi yang dibawa oleh Belanda termasuk sistem ekonomi Kapitalismenya yang membuat perubahan dan pergeseran dari sederhana menjadi kompleks. Sebelumnya pada abad ke-19, terutama para kaum pribumi non-bangsawan mendambakan sosok Ratu adil yang menyelamatkan mereka dari penindasan orang Belanda.

Pada awal abad ke-20, peran Kerajaan lokal di Indonesia digantikan oleh Perusahaan Perusahaan Belanda yang menjadi pemimpin dalam bentuk versi Perusahaan seperti Nederlandsche Handels Maatschappij, N.I. Escompto Maatschappij, N.I. Handeslbank. Selain itu penggantian dari perkebunan lokal menggeser ke perkebunan milik swasta Eropa yang memegang kendali perkebunan dengan para pekerja para rakyat pribumi. Kapitalisme di Hindia-Belanda terjadi dinamika dengan organisasi awal pergerakan Nasional. Politik etis membawa teknologi seperti infrastruktur, media dan fasilitas umum yang membuat Hindia-Belanda mengalami modernisasi serta membantu kegiatan perdagangan perkebunan swasta Eropa dengan distribusi ke berbagai wilayah. Budi Utomo awalnya mendukung kebijakan kolonial Hindia Belanda,  Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia melakukan cara radikal dan menolak kapitalisme dan politik kolonial Belanda, terutama anggota dari Partai Komunis Indonesia memainkan peran penting dalam kegiatan kapitalisme. Di sisi lain adanya penggunaan bahasa Melayu rendah yang dipakai oleh kalangan rakyat biasa dengan penggunaan bahasa Melayu tinggi yang digunakan oleh kalangan pribumi atas dan penggunaan Bahasa di dalam sekolah formal Belanda bagi pribumi.

Dengan menyebarkan informasi, kebanyakan pribumi menggunakan bahasa Melayu rendah dibanding Melayu tinggi. Dengan penggunaan bahasa Melayu rendah dalam surat kabar membuat popularitas surat kabar bahasa Melayu rendah naik dan dapat mendobrak batasan penggunaan bahasa secara struktur di Hindia-Belanda sehingga bahasa Melayu rendah dapat diterima di dalam berbagai kalangan di Hindia-Belanda untuk menjangkau informasi lebih banyak dikarenakan tidak semua kalangan bumiputra menggunakan bahasa Melayu tinggi.

Banyak penggunaan bahasa dalam surat kabar diganti menjadi yang lebih netral seperti kata meneer menjadi kata toean, dan kapitalist digantikan pedagang atau disangkutpautkan dengan kaum buruh. Surat kabar tersebut kebanyakan berisi tentang realita bagaimana kehidupan para kaum bumiputra yang merasa tertindas oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda dan menjadi alat perjuangannya seperti yang dilakukan oleh Sarekat Islam dengan surat kabar Oetoesan Hindia. Semenjak Perang Dunia I dan Revolusi Rusia, penggunaan kapitalis diganti menjadi kaoem moedal atau kaoem oeang. Communist dari bahasa Belanda mnejadi kommunist dan partij jadi partai yang disesuaikan ke serapan bahasa Melayu. Salah satu pelopor penerbit buku masa itu adalah Balai Pustaka, dari cerita rakyat, brosur, buklet tentang keterampilan dan kesehatan. Balai Pustaka juga menerbitkan buku yang mengandung makna dan hikmah yang dapat diambil pembaca karena pada saat itu banyak masyarakakat menggunakan candu di Hindia-Belanda. Balai Pustaka juga bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda untuk permasalahan kesehatan yang ada di Hindia-Belanda. Selain itu Balai Pustaka juga menerbitkan majalah dalam bahasa Melayu, Sunda dan Jawa. Di Periode Pergerakan Nasional juga surat kabar yang mengandung perlawanan pemerintah Hindia-Belanda terutama dari kaum kiri dilarang keras oleh pemerintah Belanda bahkan ditangkap dan tidak boleh terbit surat kabar mereka.

Pada masa Pergerakan Nasional yang dimana kebangkitan partai-partai Pergerakan Nasional, bahasa Indonesia mulai terbentuk dan disebut sebagai bahasa dalam Sumpah Pemuda, karena sebelumnya banyak yang menggunakan bahasa Melayu rendah dan bahasa daerah. Di sisi lain tekanan dari pemerintah kolonial Belanda begitu gencar dan banyak para organisasi pergerakan yang semakin aktif terutama organisasi radikal yang melawan terutama strategi Partai Nasional Indonesia yang akhirnya ganti strategi karena banyak pemimpin PNI yang ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda, pecahnya menjadi PNI-Baru dan Partindo.

Bahasa Indonesia tercipta dari usulan-usulan para tokoh Pergerakan Nasional yang ingin menyatukan bangsa Indonesia dengan satu komunikasi yang dimana kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing yang sebelumnya menggunakan bahasa Belanda dan Melayu melalui Kongres Sumpah Pemuda dan Kongres Bahasa. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa perjuangan, nasionalisme dan bahasa persatuan.

 

Kelebihan:

  1. Buku ini menggambarkan sangat kompleks bagaimana dinamika proses sejarah surat kabar dan penggunaan bahasa yang digunakan sehingga dapat mengetahui bagaimana gambaran prosesnya pada masa Pergerakan Nasional.
  2. Banyaknya sumber buku dan dokumen yang dipakai termasuk dari luar negeri sehingga banyak referensi yang menjadi acuan dalam penulisan buku ini
  3. Dapat membantu pembaca untuk mengetahui penggunaan bahasa dan surat kabar dalam ranah Sejarah Indonesia

Kekurangan

  1. Buku ini menggunakan bahasa yang kompleks sehingga butuh pembaca yang mempunyai tingkat literasi yang baik yang dapat memahami isi buku ini

Apabila mempunyai tingkat literasi yang tidak baik, bahasa yang digunakan dalam buku ini tidak dapat dimengerti oleh pembaca