RESENSI BUKU PARENTING DI NEGARA GAGAL – TINO FIDYANTORO

IDENTITAS BUKU

Judul Buku  : Parenting di Negara Gagal

Penulis        : Kalis Mardiasih

Penerbit       : Buku Mojok

Cetakan       : Cetakan pertama – Maret 2026 / Cetakan kedua – April 2026

Tebal Buku  : iv + 110 halaman

Berat            : 250 gram

Harga Buku  : Rp. 70.000

 

SINOPSIS

“Banyak ahli menyebut negara ini sedang krisis keteladanan. Itulah mengapa orang tua di rumah sangat cemas. Anak bisa jadi jahat walaupun bapak dan ibu di rumah telah membekalinya dengan segala kebijaksanaan.” Bagaimana menjelaskan kepada anak mengapa mereka tidak boleh menggunakan diksi kasar sementara para pejabat bebas melontarkan umpatan di televisi? Bagaimana memberikan pengertian pada anak kalau tidak semua buku cerita yang mereka inginkan bisa dibeli dengan mudah?

Melihat Parenting dari Sudut yang Lebih Luas

Di sana, aku tidak hanya mendengar tentang parenting sebagai hubungan antara orang tua dan anak. Aku justru diajak melihat sesuatu yang lebih luas: bahwa membesarkan anak tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan lingkungan, sistem, negara, dan kebijakan. Bahkan dengan hal-hal yang sering kita anggap “bukan urusan kita”.

Kita sering diajarkan bahwa menjadi orang tua yang baik cukup dengan mencintai anak, mendidiknya dengan nilai-nilai yang benar: jujur, rajin, punya mimpi, dan berakhlak baik. Dan itu benar. Sangat benar. Tapi ternyata, itu belum cukup. Karena di luar rumah, anak-anak kita akan bertemu dunia yang tidak selalu adil. Mereka akan hidup dalam sistem yang kadang tidak berpihak. Mereka akan tumbuh di tengah realitas sosial yang tidak semua orang punya akses yang sama.

Dan di titik itu, aku seperti ditampar pelan.

Selama ini, kita terlalu sering menaruh seluruh beban masa depan anak di pundak orang tua. Seolah-olah, kalau anak gagal, itu karena orang tuanya kurang berusaha. Seolah-olah, kalau anak berhasil, itu semata karena kerja keras keluarga. Padahal, ada hal besar lain yang ikut menentukan: sistem.

 

NEGARA YANG “GAGAL”

Bayangkan seorang anak yang sudah diajarkan untuk bermimpi tinggi. Tapi sekolahnya minim fasilitas. Gurunya terbatas. Lingkungannya tidak mendukung. Akses terhadap peluang begitu sempit.Atau anak yang sudah dididik untuk jujur, tapi tumbuh di lingkungan yang penuh praktik ketidakadilan. Di mana kejujuran justru sering kalah oleh koneksi dan kekuasaan. Apa yang bisa kita harapkan? Di titik itu, aku mulai mengerti maksud dari “parenting di negara gagal”. Bukan berarti kita benar-benar hidup di negara yang sepenuhnya gagal. Tapi ada banyak celah yang membuat proses membesarkan anak menjadi lebih sulit dari seharusnya. Dan sering kali, kita tidak sadar akan itu.

PENTINGNYA KESADARAN “POLITIK”

Di acara itu, aku melihat banyak ibu-ibu. Wajah mereka hangat, tapi juga menyimpan kegelisahan. Mungkin aku belum paham rasanya. Tapi siapa sih yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya? Di sinilah aku merasa, ada satu pesan penting yang perlu kita bicarakan lebih sering, dan mungkin selama ini kita hindari: orang tua tidak bisa apatis terhadap isu politik. Iya, politik. Kata yang sering terasa jauh, rumit, bahkan melelahkan. Kata yang sering kita anggap “bukan urusan kita”, apalagi dalam konteks parenting dan rumah tangga. Tapi ternyata, justru di situlah letak persoalannya.

Kebijakan pendidikan, misalnya, itu politik. Akses kesehatan, itu politik. Lapangan kerja, upah layak, keamanan lingkungan, itu semua politik. Dan semua itu akan langsung atau tidak langsung memengaruhi kehidupan anak-anak kita. Baik sekarang, atau nanti.

Kalau kita ingin anak kita tumbuh di sekolah yang baik, kita tidak bisa tidak peduli pada kebijakan pendidikan. Kita ingin anak kita hidup sehat, kita tidak bisa abai terhadap sistem kesehatan. Menjamin masa depannya yang layak, kita tidak bisa menutup mata terhadap arah kebijakan negara.

Jadi sebenarnya, ketika kita memilih untuk tidak peduli, kita sedang menyerahkan masa depan anak kita pada sesuatu yang tidak kita pahami. Dan itu berisiko. Aku jadi teringat satu hal sederhana: selama ini kita sibuk memilih sekolah terbaik untuk anak, tapi jarang sekali bertanya: siapa yang menentukan kualitas pendidikan di negeri ini? Kita sibuk mengajarkan anak untuk disiplin, tapi jarang bertanya, apakah sistem di luar sana memberi ruang yang adil untuk mereka yang sudah berusaha? Berharap anak kita sukses, tapi sering lupa bahwa kesuksesan itu tidak hanya ditentukan oleh usaha individu, melainkan juga oleh struktur yang mengelilinginya. Dan struktur itu, lagi-lagi, dibentuk oleh politik. Tidak Harus Besar, Tapi Berarti Tentu ini bukan berarti kita semua harus jadi aktivis. Bukan berarti setiap orang tua harus turun ke jalan. Tidak. Tapi setidaknya, kita perlu melek. Terkait informasi, kebijakan, dan arah perubahan. Karena dari situlah kita bisa mulai mengambil peran, sekecil apa pun itu. Mungkin dengan memilih pemimpin yang tepat. Atau dengan ikut menyuarakan isu yang penting. Bisa juga dengan tidak diam ketika ada ketidakadilan.

 

 KELEBIHAN

  1. Buku ini membahas ironi modernitas dan tantangan mengasuh anak di era pascamodern, menjadikannya bacaan relevan bagi orang tua muda.
  2. Buku ini membuka mata kita tentang menjadi orang tua di Indonesia kini dianggap sebagai bentuk perlawanan, di mana tujuan utamanya adalah menciptakan ekosistem yang lebih baik bagi anak di tengah ketidakpastian.
  3. Penulis menyoroti bagaimana lingkungan yang kurang kondusif, krisis keteladanan, dan situasi sosial-politik yang buruk memaksa orang tua bekerja ekstra keras untuk melindungi anak-anak.
  4. Buku ini menegaskan bahwa pengasuhan anak tidak terjadi di ruang hampa. Situasi politik dan kebijakan negara berdampak langsung pada beratnya beban orang tua dalam mendidik anak.

KEKURANGAN

  1. Buku ini terlalu monoton dan ilmiah
  2. Kajian di dalam buku ini mungkin belum tentu relate dengan keadaan pembaca di kota-kota kecil
  3. Bagi orang tua yang tidak ingin ada perubahan pada diri anaknya mungkin akan mengindahkan banyak hal di dalam buku ini.

BIOGRAFI PENGARANG

Kalis Mardiasih (lahir 16 Februari 1992) adalah seorang penulis, aktivis, dan pemengaruh Indonesia. Kalis menjadi aktivis untuk organisasi keagamaan Islam Nahdlatul Ulama. Ia juga merupakan aktivis Jaringan GUSDURian.

Kalis pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam cabang Surakarta. Kalis telah membuat dua buku, yakni Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! dan Muslimah yang Diperdebatkan (keduanya diterbitkan pada 2019).

Kehidupan awal

Kalis mulai memiliki kebiasaan menulis sejak tahun 2013, dilatarbelakangi oleh desakan ekonomi. Saat diwawancarai oleh Mojok.co, ia selalu berjuang untuk bertahan hidup, termasuk dengan menulis. Guru menulisnya adalah Heru Prasetia.

Kehidupan pribadi

Kalis dikenal karena sering mengkritik unggahan-unggahan dari pendakwah Felix Siauw di media sosial. Kalis juga pernah mengkritik mengenai kesalahan dari cara pemakaian jilbab. Kalis mengatakan bahwa cara pemakaian jilbab yang benar adalah dengan menyesuaikan budaya setempat. Misalnya perihal rambut, di Indonesia tidak menimbulkan hasrat bagi kaum lelaki, tetapi berbeda halnya dengan kondisi negara-negara di Timur Tengah. Karya tulis Buku

  • Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!(2019)
  • Muslimah yang Diperdebatkan(2019)
  • Parentingdi Negara Gagal (2026)