RESENSI BUKU NGAJI DIRI BERSAMA AL-GHAZALI – MUHAMMAD RIF’AT
Judul : Ngaji Diri Bersama Al-Ghazali
Sub Judul : Panduan memahami kekuatan batin manusia dan cara mengelolanya untuk
sukses bahagia
Pengarang : Imam Al Iraqi
Penerbit : Qaf
Tebal Buku : 294 halaman
Cetakan : Cetakan Pertama Mei tahun 2026
Intisari Karya
Buku ini mengangkat gagasan tentang pentingnya memahami kekuatan batin manusia dan cara mengelolanya untuk mencapai kesuksesan serta kebahagiaan. Mempelajari bagaimana mengenal diri hingga pada akhirnya akan mengenal Tuhannya, mengenal diri bukan hanya sebatas lahiriah namun juga aspek batiniah. Mengenal aspek batiniah akan menjadi penting untuk dapat menembus batasan-batasan dalam diri.
Aspek batiniah ini, kita mengenalnya degan nama hati, bukan hati yang berasal dari alam syahadah, bukan hati sebagai organ tubuh, tapi hati yang merupakan substansi batiniah. Substansi batiniah adalah raja bagi seluruh organ tubuh, ogan dalam maupun luar. Diantara sifat hati (substansi batiniah) adalah mengenal Allah dan menyaksikan keindahan hadirat Allah.
Mengenal diri manusia adalah cermin untuk mengenal Allah, Jika manusia mampu mencermati keajaiban tubuhnya, baik dari sisi organ luar maupun dari sisi organ dalam niscaya manusia akan mengetahui kemampuan Sang Pencipta. Disetiap organ tubuh manusia ada hikmah (kebijaksanaan), semakin bertambah pengetahuan manusia tentang hikmah dan keajaiban dalam penciptaan organ tubuh maka pengagungannya kepada Allah dalam hatinya juga akan semakin besar.
Setelah menganl sifat-sifat Allah melalui sifat-sifat diri maka kita juga harus tahu bagaimana menyucikan Allah melalui menyucikan diri. Cinta, kepedihan, dan kenikmatan Adalah sesuatu yang ada tetapi tidak mempunyai wujud fisik, tidak diketahui seperti apa dia, tidak mempunyai dimensi dan besaran. Seperti ruh manusia sesuatu yang ada namun tidak memiliki wujud fisik demikian pula Sang Raja Alam Semesta.
Kelebihan Buku
- Bahasa Logis dan Kaya Analogi:Berbeda dengan kitab tasawuf klasik yang kadang terasa berat, buku ini ditulis dengan uraian yang logis serta diperkaya banyak perumpamaan (analogi) untuk memudahkan pembaca awam memahami konsep batin yang abstrak.
- Menyelamatkan Karya yang Hilang:Imam al-Iraqi merangkum pokok-pokok pengetahuan berharga dari puluhan kitab Sang Hujjatul Islam, termasuk beberapa bagian dari manuskrip kitab Al-Ghazali yang saat ini sudah hilang di dunia Islam.
- Penjelasan Struktur Manusia yang Jelas:Buku ini membedah secara apik keterkaitan antara tiga struktur inti dalam diri manusia, yaitu Qalb (hati sebagai pusat kendali), Nafs (hawa nafsu/ego), dan Ruh (cahaya Ilahi) agar kita bisa mengelolanya demi mencapai ketenangan hidup.
Kekurangan Buku
- Sifatnya yang Sangat Padat (Merangkum Puluhan Kitab):Karena buku ini merupakan ikhtisar atau rangkuman dari puluhan karya besar Imam al-Ghazali, beberapa pembahasan batin atau konsep spiritual yang mendalam sengaja dipadatkan. Bagi pembaca yang ingin mempelajari suatu materi secara mendalam atau berurutan dari bab aslinya (seperti dalam kitab Ihya Ulumuddin), buku ini mungkin terasa kurang menjabarkan detail sejarah atau dalil-dalil panjang yang melatarbelakanginya.
- Membutuhkan Perenungan Ekstra (Bukan Bacaan Ringan):Walaupun bahasanya sudah disesuaikan agar lebih logis dan dipenuhi analogi, topik yang diangkat adalah tasawuf—yaitu pembersihan batin, pengelolaan nafsu, dan penyakit hati. Buku ini bukanlah tipe buku motivasi populer yang bisa dibaca cepat sekali duduk; pembaca perlu sering berhenti sejenak untuk merenungkan isinya agar bisa menjawab lembar refleksi dengan jujur.
- Target Pembaca yang Spesifik:Buku ini ditujukan bagi mereka yang memang memiliki ketertarikan tinggi pada pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan spiritualitas Islam. Bagi pembaca awam yang murni mencari tips psikologi modern tanpa sentuhan religius atau teologis, pendekatan yang dibawa buku ini mungkin terasa terlalu teoretis keagamaan.
Kesimpulan
“Melalui buku ini, sang imam membajak ladang hati yang tandus. Mengirimkan semangat yang menembus awan-awan di langit akal yang lalai. Awan itu lalu menurunkan rintik-rintik hujan keberkahan yang membasahi benih jiwa-jiwa yang berpikir. Menumbuhkan buah-buah hikmah yang bersumber dari curahan rahmat yang tak putus-putus.”