RESENSI BUKU SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI – DWI SUYANTI
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
Tahun Terbit: 2025
Tebal buku: 195 halaman
ISBN : 978-602-05-3132-8
Jenis Buku: Novel
“Ale” ia adalah pemeran utama dalam kisah perjalanan buku yang akan saya resensi kali ini. Sesosok manusia biasa yang menjalankan kehidupannya yang penuh dengan ujian yang begitu sulit untuk ia lewati. Namun tanpa ia sadari, banyak dari beberapa anak manusia yang merasa keberadaannya begitu penting bahkan sangat dibutuhkan sekali.
Tujuan saya mengambil buku ini untuk dijadikan resensi, tak lain dan tak bukan karena buku ini sangat memotivasi orang-orang yang mulai merasa bahwa hidup di dunia sudah tidak ada gunanya lagi, yang ada di pikirannya hanyalah mati dan mati. Padahal, mati bukanlah solusi, akan tetapi bisa menjadi sebuah masalah yang lebih rumit lagi. Bahasa yang dipakai dalam buku ini cukup fulgar, tidak pantas jika anak di bawah umur membaca buku ini.
“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” buku ini termasuk buku yang Best Seller pada tahun 2025 ini, salah satu buku yang banyak diminati oleh para pembaca. Bukan karena buku ini sangat wow dan spektakuler, melainkan karena buku ini mempunyai caranya sendiri untuk membuat mata tertarik untuk memilihnya menjadi teman dikala sepi. Dilihat dari kovernya sangat menarik, ada semangkuk mie ayam yang siap untuk disantap.Buku ini terdiri dari 195 halaman yang berisi perjalanan sesosok manusia yang bernama “Ale”.
“24 jam sebelum mati” ini adalah salah satu bagian yang ada pada buku ini. “Ale” sepertinya sudah siap menyambut kematiannya, ia bersolek bahkan ia juga mengenakan baju terbaik dan yang paling rapi yang ia punya. Ia sudah benar-benar siap bertemu dengan Tuhan. Saat sisa 17 jam lagi menuju ia mati, ia menenggak obat-obatan dengan dosis yang tinggi dalam sekali tenggak kemudian membiarkan obat itu bekerja sebagai penutup hidupnya.
“Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” ia hanya ingin memakan mie ayam seharga 15 ribu yang ada di dekat rumahnya sebelum ia mati. Namun kegagalan menghampirinya dan menghancurkan rencananya. Apa yang membuat Ale begitu kecewa? Ya kekecewaannya terjadi karena mie ayam langganannya tutup. Hilang sudah harapannya untuk bertemu dengan Tuhan hari ini.
Namun cerita perjalanan Ale untuk memenuhi harapannya, belum berakhir sampai di sini, ia terus berusaha agar keinginannya untuk mati pada hari ini tercapai.
Untuk mati saja ia gagal, begitu pikirnya. Banyak perjalanan yang dilalui Ale untuk melewati hari-harinya yang cukup berat ini. Dalam perjalanan menuju mati yang ia harapkan, ia banyak bertemu orang-orang yang mengajarkannya arti kehidupan, bahkan banyak orang yang menganggap keberadaannya itu sangat penting.
Perjalanan demi perjalanan sudah ia jalani, berbagai macam orang sudah ia temui, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa ia kutip dalam pertemuan-pertemuan itu.
Saya akan menceritakan satu bagian lagi dalam buku ini “Seporsi mie ayam yang terakhir”, Ale benar-benar ingin memakan mie ayam itu sebelum ia mengakhiri hidupnya, namun ada hal yang menghalanginya saat hendak memakan mie ayam tersebut.
Apakah Ale berhasil mencapai keinginannya untuk bertemu dengan Tuhan?
Atau bahkan ia tetap bertahan hidup?
Pada penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya?
Baca sendiri biar ga jadi bunuh diri, hidup hanya sekali jangan coba-coba untuk mati mandiri.
_Pesan Moral_
Untuk kalian bahkan untuk kita semua yang ingin mengakhiri hidupnya hanya karena bingung bagaimana menghadapi dunia yang begitu keras, jangan cepat-cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri. Bunuh diri adalah perbuatan yang dilarang agama. Manusia dalam hidup ini akan selalu ada ujian yang akan dihadapi, namun bersabarlah dalam menghadapinya, karena Allah tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuan hambanya. Mohonlah petunjuk kepada Allah untuk diberikan solusinya.
Pikirkan orang-orang yang sayang sama kita dan orang-orang yang peduli sama kita, mereka semua akan merasa kehilangan kita dan akan terus-terusan merasa sedih bahkan tersiksa dengan kepergian kita. Jika ada masalah, cari teman untuk bercerita, jangan pendam semuanya sendirian. Setiap masalah pasti ada solusi, tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Resensator: Dwi Suyanti