RESENSI BUKU MAX HAVELAAR – RAFIE GUSTIAZI
Identitas Buku
1. Judul: Max Havelaar
2. Penulis: Multatuli (Edward Douwes Dekker)
3. Penerbit (Edisi ini): Mizan Classic
4. Tahun Terbit Pertama: 1868
5. Jumlah Halaman: 481
6. Genre: Satire politik/Fiksi sejarah
● Sinopsis
Novel ini menggunakan teknik penceritaan bingkai. Cerita dimulai dari sudut pandang Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi di Amsterdam yang kikir, membosankan, dan hanya peduli pada keuntungan. Ia kemudian menerima naskah dari seorang teman lama yang ia sebut “Sjaalman” (sebenarnya adalah sosok Multatuli sendiri).
Naskah tersebut menceritakan kisah Max Havelaar, seorang asisten residen di Lebak, Banten. Berbeda dengan pejabat kolonial lainnya, Havelaar adalah sosok idealis yang memiliki rasa kemanusiaan tinggi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Lebak menderita akibat sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Penderitaan rakyat tidak hanya datang dari pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga dari eksploitasi oleh penguasa lokal (Bupati) yang korup.
● Analisis Buku
○ Kritik Kepada Pemerintah Belanda dan Pribumi
Buku ini menceritakan betapa kejamnya pemerintah Belanda yang membuat kebijakan tanam paksa sehingga rakyat sangat menderita. Ditambah lagi penguasa lokal yang berlaku korup sehingga para petani tidak mendapatkan apapun. Setelah buku ini ditulis, pemerintah Belanda akhirnya mendapat kritik tajam dari dunia
internasional akibat kebijakan tanam paksa, sehingga lahirlah yang namanya Politik Balas Budi (Trias Etica).
○ Gaya Bahasa Satire
Pemilihan gaya bahasa di buku ini adalah satire yaitu sindiran kepada pemerintah kolonial Belanda. Gaya satire yang ditunjukkan pada buku ini adalah satire juvenalian yaitu sindiran yang tajam dan sarkastis.
○ Kisah-Kisah Tragis
Ada kisah tragis yang ditulis dalam buku ini, salah satunya adalah kisah keluarga Saijah, petani miskin yang kerbaunya dirampas oleh pejabat korup untuk membayar pajak. Sehingga Saijah harus merantau ke Batavia. Setelah tiga tahun perantauan Saijah kembali ke kampung halamannya untuk menemui kekasihnya. Rumah kekasihnya hancur dan ternyata kekasihnya mengungsi ke Lampung. Setelah Saijah sampai di Lampung ia menemukan kekasihnya yang bernama Adinda telah tewas akibat penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Belanda
● Kelebihan dan Kekurangan Buku
○ Kelebihan
■ Gaya penulisan yang berani untuk membongkar keserakahan penguasa kolonial
■ Buku ini masih relevan karena membongkar sisi gelap birokrasi yang ada hingga saat ini
○ Kekurangan
■ Struktur cerita yang berpindah-pindah, dari sisi Droogstoppel ke Naskah Havelaar yang ditulis Stern (sekretarisnya Batavus Droogstoppel)
■ Beberapa bagian menuliskan keluhan dan detail administrasi birokrasi yang panjang
● Kesimpulan
Buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terlebih pecinta sejarah yang ingin merekonstruksikan dan mengimajinasikan betapa sakitnya penderitaan rakyat khususnya di Lebak, Banten pada masa kebijakan tanam paksa. Buku ini adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah Indonesia dan bagaimana sastra memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Buku ini merupakan pengingat abadi bahwa ketidakadilan harus dilawan, bahkan jika itu harus mengorbankan karier dan kenyamanan pribadi.