Cerita dari Digul

Judul               : Cerita dari Digul
Penyunting      : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit           : Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) 2022
Cetakan           : XI (Sebelas) Februari, 2024
Tebal               : xxiv + 320 halaman.; 14cm x 21cm
ISBN               : 978-602-6208-98-9

Mendengar kata Digul, pertama yang terlintas di benak saya adalah tempat pengasingan jaman kolonial, dijadikan tempat pembuangan beberapa tokoh pahlawan kemerdekaan kita pada masa perjuangan dahulu. Hal ini saya tahu dari buku pelajaran sejarah di sekolah. Selebihnya pengetahuan mengenai kondisi geografis dan kehidupan orang-orang yang menjalani pengasingan di sana, buat saya sama sekali masih kosong. Beruntung saya menemukan buku suntingan Pak Pram ini. Didalammnya  menyuguhkan cerita dari para eks Digulis. Sedikit banyak membantu saya memahami tentang kisah dan sejarah orang-orang di pengasingan Digul. Pembuangan politik yang bukan saja memenjara kemerdekaan diri. Bukan sebatas membuat jauh dari kampung halaman dan orang-orang tercinta. Tapi ini adalah pembuangan politik yang dialami sebab menentang kekuasaan kolonial yang serba sensorik-represif terhadap karya tulis dan mudah sekali mengeluarkan hukuman tanpa pengadilan. Juga pembuangan politik yang dialami ketika wujud Republik merdeka dan berdaulat belum lagi menunjukkan tanda-tanda kelahirannya.

Ini juga adalah pembuangan politik yang menghadapkan hidup pada ketidakpastian sampai kapan mampu bertahan. Oleh karena melewati hidup harian pada tempat yang jauh dari pengawasan hukum yang beradab. Sebuah tempat dimana kurungan serta kerja paksa membuka hutan untuk berladang dilakukan dalam todongan senapan dan tendangan sepatu lars. Sebuah tempat dimana serangan penyakit mematikan, malaria hitam, telah menjadi agen malaikat maut yang paling menakutkan.

Pendek kata, bagaimanakah rasanya menulis dalam siksaan lahir batin dimana keyakinan dan hidup dipertaruhkan melewati ketidakpastian sampai kapan dera siksa itu berakhir. Saya secara terlambat menjumpai buku kumpulan cerita yang ditulis dalam kondisi seperti di atas. Karya yang disunting oleh orang buangan, seorang tahanan politik juga sastrawan cum sejarawan besar, Pramoedya Ananta Toer. Kumpulan tulisan itu berjudul Cerita dari Digul yang pertama kali diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2001. Kini dicetak kembali oleh KPG.

Buku ini memuat lima cerita pendek yang merekam kisah-kisah hidup di Tanah Boven Digul, sebuah tanah kematian bagi para pemberontak yang mulai disediakan pemerintah kolonial tahun 1927. Boven Digul adalah kamp pengasingan yang sengaja dibuat untuk mereka yang dianggap terlibat atau pun bersimpati pada pemberontakan 1926-1927, tanpa pengadilan. (Pramoedya, Pengantar, hal xxi). Dalam lima cerita itu, tidak ada yang membahas bagaimana menulis dalam suasana penderitaan manusia buangan kolonial. Alias bukan buku resep menulis walau dengan membaca pelan-pelan setiap cerita kita bisa melihat sebuah pola menulis tahun-tahun itu.

 

Para penulisnya menyusun cerita dengan menggunakan bahasa Melayu yang menjadi “ibu” dari bahasa Indonesia. Mereka menulis dalam gairah nasionalisme bahasa nasional yang masih muda dalam semangat Sumpah Pemuda 1928 yang menetapkan bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia. Sementara, bagi Pram, ketika kesepakatan Sumpah Pemuda dideklarasikan,kesepakatan bahasa persatuan (baca : Melayu) tidak cukup dinilai dan dirumuskan. Dengan kata lain, kesulitan tambahan dari para penulis yang eks-Digulist itu adalah menulis dalam sebuah cara bertutur baru yang masih mencari bentuknya. Mereka memilih tidak menulis dalam bahasa ibunya, baik yang berasal dari Sumatera maupun dari tanah Jawa.

Rustam Digulist yang ditulis D.E Manu Turoe berkisah tentang seorang pemuda dari tanah Simelungun, Sumatera Utara. Rustam memiliki janji untuk menikahi kekasihnya yang sudah mendesak agar janji menikah dan hidup bersama segera dipenuhinya. Dialog Rustam dan kekasihnya disajikan pengarang dengan indah, layaknya bait puisi. Dialog yang merekam penantian perempuan menunggu dilamar sementara sang lelaki belum lagi memiliki pegangan untuk menafkahi hidup bersama.

“Hhhh…! Hatiku ta’ sabar lagi menanti, Rustam! Bilakah masanya engkau akan melamar puspa sekumtun di taman itu kakanda?Siang hari alam, padamu jua aku terkenang! Apakah engkau akan berjanji jua serupa dahulu, kakandaku?”

“Adinda, adikku Cindai…!”

“Tentukanlah, pastikanlah pebila engkau datang meminang daku!”

“Dengarkanlah perkataanku dahulu dengan sabar, adinda!”

“Hatiku telah penuh sesak, rasanya semakin risau jua!”

 

Di zaman kolonialisme ditegakkan dengan senjata dan sepatu lars, aksi pembunuh bayaran tampaknya sudah biasa. Jadi si opseter bisa menggunakan tenaga kuli, yang pribumi, untuk balik menghajar Rustam. Namun ternyata tidak ada yang sudi menerima operasi balasan yang dibayar. Dengan kata lain, para kuli perkebunan itu lebih memilih berdiri di posisi Rustam. Rupa-rupanya Rustam, dalam bahasa pergerakan, telah mengorganisir mereka. Secara diam-diam Rustam mengadakan pertemuan dengan para kuli perkebunan, pertemuan propaganda. Rustam ternyata adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah terdaftar selama satu tahun.Si Opseter kemudian melaporkan ini dan Rustam ditangkap lalu dibuang di Tanah Merah, Boven Digul.

Selama di pembuangan, Rustam tetap merawat kenangan dan cintanya pada adinda yang batal dilamarnya karena kedoknya terbongkar. Dalam masa-masa sulit ini, Rustam terus merawat harapan ia akan kembali ke kampung, tanah Simelungun dan menempuh janjinya. Rustam memang kemudian bebas dan bisa kembali ketemu jantung hatinya. Ternyata keadaan telah berubah walau pun rasa cinta masih tetap bertahan. Stigma sebagai PKI dan orang hukuman membuat orang tua perempuan menolak menikahkan mereka. Rustam dan kekasihnya memilih kawin lari baru kemudian mengabarkan kepada keluarga mereka. Orang tua perempuan lalu mengadakan kenduri yang ternyata adalah sebuah panggung untuk menyatakan pembatalan pernikahan mereka.

Bagi saya, si pengarang telah menyusun sebuah tuturan kisah yang memadukan pergulatan seorang pemuda (dunia batin individu) berhadapan dengan zaman yang membuatnya kalah. Tak ada haru biru yang terlalu. Atau juga romantisme yang bikin jemu. Pengarang memotret dunia dalam tanpa jatuh pada narasi cengeng yang menunjukkan karakter seorang buangan politik yang keras hati melewati penderitaan Tanah Digul yang keras. Tidak ada rumusan praktis bagaimana seharusnya hidup. Sejarah dan masyarakat adalah universitas kehidupan, terserah pada kita, generasi hari ini hendak mengambil pelajaran dari kisah yang seperti apa.

Di penghujung cerita, Rustam bahkan menyeru bahwa segala usaha dan penderitaan yang dilalui hasilnya hanyalah Tuhan yang menentukan. Rustam ternyata seorang propagandis komunis yang tidak membuang Tuhan dari hatinya. Begitulah sedikit yang bisa saya bagikan dari pembacaan awal atas Cerita dari Digul. Masih ada empat cerita lagi yang harus disantap bersama secangkir coklat yang kini dingin karena membereskan tulisan ini. Ada sisa cerita yang perlu didalami untuk menjawab kebutuhan menyambungkan hati dan pikiran hari ini dengan suasana hati-zaman para penulis eks-Digulis. Usaha menyambungkan suasana batin hari ini dengan sejarah kelam dari kuasa bengis kolonial di Tanah Merah, Digul.

Sayang, ending ceritanya hanya sampai disini. Tak ada ujung dari cerita pelarian sontani cs. Apakah mereka selamat, tertangkap, atau ada yang meninggal semuanya belum terang. Namun hal ini justru menunjukkan originalitas sumber cerita. Kumpulan cerita tentang Digul ini sedikit banyak mampu memberi wawasan tentang orang buangan pada masa kolonial. Juga kondisi wilayah Digul pada masa itu. Buku ini dapat dijadikan pelengkap bagi siapa saja yang meneliti atau meminati sejarah tentang Digul.

KELEBIHAN                       : Bagaimana tidak menegangkan, mereka lari menyisir hutan belantara yang sangat luas. Hingga pada suatu fase mereka kehabisan perbekalan, akhirnya Saleh dan Sontani terpaksa memakan buah-buahan yang tak mereka ketahui apakah itu beracun atau tidak. Hingga akhirnya mereka keracunan, ditambah lagi dengan salah satu diantara mereka terkena gigitan nyamuk malaria, belum lagi mereka berdua hanyut dalam aliran sungai besar yang hampir merenggut nyama mereka.

Yang menjadi canggung, adalah ending dari cerita ini, dimana kedua tokoh dalam cerita hanya berakhir sampai bertemu dengan rombongan lain yang sama-sama melarikan diri dari Digul, akan tetapi bertemunya mereka masih didalam hutan belantara dan tentu saja masih banyak sekali hal menegangkan yang kita yakin belum dibahas didalam cerita. Endingnya yang menggantung itu juga kita anggap sebagai kekurangan, karena pembaca akhirnya hanya bisa menyimpulkan sendiri dengan cara mengira-ngira saja.

KEKURANGAN      : Dalam novel cerita dari Digul ini menggunakan bahasa Melayu, khas tulisan-tulisan sastra lama dengan mutu tinggi dimana para pembaca akan diajak bersampan ditengah arus kekayaan rasa dengan menghadirkan nilai-nilai history gamblang sebuah peristiwa kelam masa kolonial. Salah satu cerita yang diambil dari kisah  D. E Manu Tusoo (nama saduran salah satu digulist) pada pembukaan cerita terdapat kata-kata