RESENSI BUKU AYAH, AKU RINDU – RIRIH ROHMATUN
- Identitas buku
- Judul buku : Ayah, Aku Rindu
- Penulis : S. Gegge Mappangewa
- Penerbit : Indiva Media Kreasi
- Tahun terbit : Cetakan Pertama, Sya’ban 1441 H/Maret 2020
- Tebal halaman : 192 halaman ; 19 cm
- ISBN : 978-602-495-290-7
- Sinopsis Buku
Novel ini menceritakan beberapa kehilangan yang menyakitkan. Kisah diawali dengan meninggalnya Pak Ramli yang ternyata menjadi alasan dari kebencian terbesar dari orang yang paling Rudi sayang. Rudi sebagai tokoh utama diceritakan sebagai remaja asal Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Rudi duduk di bangku SMA. Kehilangan pertama yang dialami Rudi adalah ketika ibu kandungnya meninggal setelah sebelumnya usaha peternakan milik keluarganya harus gulung tikar. Di hari ibunya meninggal itu, ayahnya mulai berubah. Pak Gilang, ayah Rudi mulai membenci Rudi tanpa diketahui apa penyebabnya. Tak lama kemudian Rudi dan ayahnya pindah ke rumah panggung milik neneknya yang sudah lama meninggal. Kehilangan kedua yang dialami Rudi adalah semakin hilangnya kasih sayang yang dulu diberikan sepenuhnya oleh ayahnya. Bahkan ayah Rudi mulai bertindak kasar. Kejadian semakin memuncak ketika ayah Rudi mengaku sebagai Nenek Mallomo dan mengancam akan membunuh Rudi. Dalam situasi yang semakin menyedihkan itu, ada Pak Sadli yang membantu Rudi.
Pak Sadli adalah anak Pak Ramli sekaligus guru agama Rudi di sekolah. Semasa hidupnya, Pak Sadli tak mendapatkan kasih sayang dari Pak Ramli. Bahkan Pak Sadli pernah membenci ayahnya sendiri. Meskipun Pak Sadli sempat terluka oleh ayah Rudi, dia tetap membantu menguatkan Rudi. Kisah romansa ala anak sekolah juga diceritakan dengan apik. Rudi dan Nabil sama-sama menyukai Ririn yang tak lain adalah adik dari Pak Sadli. Namun, Rudi mendapat pertentangan dari ibunya yang mengetahui jika dia memiliki perasaan pada Ririn. Kondisi ayah Rudi yang semakin tak terkendali membuatnya terpaksa harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Ternyata rumah sakit jiwa itu berada jauh di Makassar. Rudi yang awalnya menolak membiarkan ayahnya dibawa ke Makassar justru mendapatkan kabar jika ayahnya sudah dibawa ke Makassar oleh Pak Sadli. Rudi mengetahui hal itu setelah lima hari berada di rumah sakit setelah dihajar oleh ayahnya. Rudi harus berpisah dengan ayahnya tanpa bisa bertemu dulu. Kehilangan ketiga yang dialami Rudi adalah ketika dia memilih mengembalikan uang sepuluh juta yang didapatnya sebagai juara lomba fotografi. Dia merasa gelisah karena foto yang menjadi juara justru foto milik ayahnya. Rudi yang tak mau berbohong memilih mengakui jika foto itu bukan asli miliknya. Kebencian ayah Rudi semakin menjadi. Bahkan hanya dengan mendengar atau melihat foto Rudi, emosi ayahnya bisa langsung meledak.
Alasan kebencian ayah Rudi mulai terkuak dengan bantuan dari dokter yang merawat ayahnya. Misteri cincin sisik naga juga terbongkar di akhir kisah. Rahasia yang selama ini menjadi teka-teki juga terjawab dan membuka kisah baru. Alasan pertentangan ibu Rudi terhadap hubungannya dengan Ririn juga menemukan alasannya. Ternyata Pak Sadli adalah kakak Rudi dan Pak Ramli adalah ayah kandung Rudi. Meskipun sulit diterima, kenyataan itu tak bisa dibantah oleh Rudi. Bagaimana pun juga, kebencian Pak Gilang pada Rudi tak memudarkan cinta dan pengabdian Rudi padanya. Bagi Rudi, Pak Gilang tetaplah ayahnya. Dalam novel ini saya menemukan bahwa kehilangan dan kebencian tak mampu memudarkan cinta dan pengabdian.
- Kelebihan Buku
Ada banyak kelebihan yang saya temukan dalam novel ini di antaranya :
- cover yang menarik mengandung unsur misterius, warna hitam di setiap halaman judul hikayat
- beberapa kosa kata bahasa Bugis yang menambah wawasan, cerita lokal tentang Nenek Mallomo, romansa anak sekolah yang diceritakan tanpa berlebihan
- kutipan di setiap awal hikayat yang menurut saya semuanya begitu mengena di hati.
- Kekurangan Buku
Novel ini menggunakan alur maju dan mundur yang mengajak pembaca untuk kembali ke masa lalu saat kehidupan Rudi masih baik-baik saja. Alur cerita tidak tertebak oleh saya karena akhir cerita yang begitu mengejutkan.
Oleh : Ririh Rohmatun